Pages

Senin, 19 Desember 2011

Ayah..

Ayahku, 
satu satunya orang yang harus bertanggung jawab atas lahirnya aku dan tujuh saudara perempuanku ke dunia ini.
Ia tidak membiarkan ibuku berhenti melahirkan sampai ia mendapatkan anak laki laki yang sudah lama ia nanti.
Ia berdoa tiap malam agar tuhan bermurah hati memberikannya anak laki laki dan bukan untuk anak perempuan lagi. 
Ayahku bilang anak laki laki akan membantunya mencari uang dan memenuhi kebutuhan tiap mulut anak perempuan dirumah ini. 
Ia sama sekali tidak berpikir bahwa kami anak-anak perempuannya mungkin saja mampu mencari penghidupan yang layak diluar sana jika ia sedikit saja percaya dan memberikan kami kesempatan, anak anak perempuannya. 
Ya, bagaimana ia bisa percaya, karena ia hanya membiarkan kami mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar saja. Kemudian ditahun tahun selanjutnya, ayah menyuruh kami kembali kerumah menghabiskan hari hari kami melakukan pekerjaan rumah.
Ayahku bilang, anak perempuan tidak memerlukan pendidikan yang tinggi. Anak perempuan hanya perlu dua hal untuk dicintai laki laki yaitu pandai memasak, dan mampu menghasilkan anak laki-laki. Sungguh, pilu hatiku mendengarnya.
Selama yang kutahu, semenjak ibu selalu melahirkan anak perempuan. Ayah bersikap seolah olah ibu lah yang bertanggung jawab atas kemiskinan kami. 
Ayah selalu berfikir bahwa dengan kehadiran anak laki-laki, akan membuat keluarga kami bernasib baik secara ajaib.

Ibu, 
Oh kasihan akupadanya. 
Setiap dua tahun sekali melahirkan adik adik baru bagi kami demi obsesi ayah pada kehadiran seorang anak laki-laki. 
Tapi tiap tahun juga, ibu selalu melahirkan anak perempuan, lagi lagi mengecewakan ayah. 
Namun ia tidak mampu berbuat apa apa, ia terlalu patuh pada ayah. 
Entah karena terlalu cinta atau karena terlalu takut. Dan aku semakin binggung dengan nasib keluargaku. 
Oh, jika aku tuhan, maka aku akan membuat setiap pria melahirkan anak, sehingga ayah akan mengerti bagaimana menderitanya menjadi seorang perempuan dan ibu.

Aku dan adik adikku sangat takut pada ayah. 
Ayah adalah pria yang keras, rumah ini bagai penjara jika ia ada dirumah. 
Maka tak aneh jika kami selalu merayakan ketidakhadirannya seperti sebuah pesta saat ia tidak ada dirumah atau sedang pergi bekerja. 
Pria inilah ~ayah~ yang berkuasa dirumah ini, kata kata lain selain dirinya tidaklah penting.
Kata katanya adalah berarti titah yang harus ditaati, dan tak seorang pun boleh menentang. 
Tidak juga dengan ibu. 
Peran ibuku disini tidak ada artinya sama sekali, pendapatnya hanya untuk diabaikan oleh ayah. 
Maka ibuku hanya diam saja, melindungi kami anak anaknya dan dirinya sendiri dari sikap yang tidak dapat ia kontrol dari ayah.

Sebagaimana lazimnya pria, ia selalu mengangkat tangannya untuk menampar ketika tidak mampu lagi berkata kata, dan begitulah dengan ayahku.  
Rasanya tamparan itu sudah menjadi makanan sehari hari bagi wajahku dan wajah saudara saudara perempuanku jika kami sedikit saja bertentangan pendapatnya dengan ayah.
 
Oh haruskah ia masih kupanggil ayah?
Aku tak ingin punya ayah,
jika ia hanya bersuara berat memaksakan semua hal tanpa bertanya bagaimana pendapat kami.
jika ia selalu marahi dan pukul keluarganya atas semua kesalahan kecil yg terjadi.
jika ia hanya menunjukkan wajah serius dan dingin tiap kali menatap kami, mengingkari kehadiran kami atas keputusan egois yang ia buat saat memaksa ibu melahirkan perempuan perempuan ini demi pertaruhan  seorang anak laki laki.

Oh, maka aku tak ingin punya ayah, aku tak perlu kehadiran seorang ayah.

Sabtu, 10 Desember 2011


.....Memory ku bak sepotong-potong puzzle yang berceceran dimana-mana..
aku takut untuk menyatukannya. Terkadang ingatan itu datang dengan sebuah memori manis dan selebihnya datang dengan menyakitkan. Bahkan terkadang aku berpikir, mungkin aku sudah mulai gila dan hilang........

Sandu-sandu kudengar senandung lagu ini dan menikmatinya. Aku merasa saat mendengarkan musik, perasaanku bisa terbang menjadi sangat gembira, kemudian menjadi terlalu sedih dan bahkan membawa perasaanku menjadi sedikit agak aneh. Lalu kadang dengan hanya mendengar sebuah musik, aku bisa jadi teringat suatu tempat, seseorang, bahkan suasana di saat aku pernah mendengarnya di waktu yang berbeda. 
(The spirit carries on~dream theater)

----------------
Kupandangi air sungai dibawah kakiku, dibawah jembatan kayu panjang bertali besi. Air itu mengalir dari hulu ke hilir dan tampak tak begitu jernih menerjang bebatuan yang menghalanginya. Didua-sisinya terhampar hijau pohon menyejukkan mata. Aku duduk dipinggir jembatan, membiarkan kakiku bergoyang goyang bebas merasakan batas ketinggian. Sementara kemudian dengan pelan2 kupejamkan mata untuk merekam hari ini ke dalam ingatan ku. Ditemani semilir angin yang meniup2, ak mncoba mendengarkan dan bayangkan bagaimana ricikan suara air dibawah kakiku saling menerjang, cicitan suara burung yang beterbangan diatas kepalaku, dan menahan nyilunya suara tali jembatan yang bergoyang. Aku menghela nafas, sungguh ak merasa nyaman tiada duanya.

Di waktu bersamaan, kudengar suara parau tak asing dari seorang laki-laki yang menyapaku ramah. Setelah dengan cepat aku mampu mendefinisikan milik siapa suara itu, kubuka pandanganku dan menemukan sosoknya sudah berada di disampingku lengkap dengan senyum simpulnya. Dan saat kulihat ia, semua yang ada pada wajahnya terasa familiar bagiku. Dia tau, kau juga tau, aku selalu kagum saat melihat kedalam matanya, yang selalu kupuji bak mata elang yang mampu menelanjangi setiap ketidaknyamanan diriku didekatnya. Mata berbola hitam, tajam dan sempurna.
Aku bukannya tak nyaman berada di dekatnya. Hanya terkadang aku merasa sangat excited. Sampai-sampai aku merasa aneh jika dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya dan seketika itu juga aku merasakan ada sentruman listrik yang menjalar di aliran tubuhku. Bersamanya dunia bisa menjadi tidak rasional. Pemikirannya begitu liar dan itu membuatku selalu tak sabar mendengar ocehannya tentang definisi kehidupan baginya.
Aku lagi2 menghela nafas, menghirup oksigen murni yang masih banyak terdapat disana. Berharap dapat membantuku berusaha bersikap normal dan menguasai diri.  Kemudian aku membiarkannya duduk disampingku dalam diam, saling tersenyum seolah mampu membaca hati masing2 tanpa harus berkata2, ia mengikuti ku menggoyang2kan kakinya di batas ketinggian. Membuat jembatan kecil ini kembali goyang dan berdecit-decit.


Dan kemudian seperti cahaya terang yang meredup. Aku tak ingat lagi apa yang kami bicarakan waktu itu. Aku hanya bisa menangkap kegembiraan yang sangat di memoriku, diatas jembatan itu.
---
Alunan musik itu menghentakkan aku karena berganti dengan jenis musik lainnya. Aku menyadari bahwa memori itu sudah tersimpan diotakku lebih dari dua tahun lalu. Saat dia masih nyata. Sementara aku sekarang berada didalam ruangan kecil ini. Tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri, tertawa, menangis, menari, berteriak dan merasa nyaman menelanjangi diriku sendiri, ketidaksempurnaanku. Sekaligus menikmati kemirisan, serta kehilangan yang sekarang sedang aku rasakan. Sekali lagi, bukan diatas jembatan.
Aku mempelajari bahwa kehilangan selalu disertai dengan rasa sakit. Dan rasa sakit itu seperti koyakan di dadaku yang tiap kali kutambal, kunikmati kembali lukanya. Bukannya lari dan bangkit dari rasa sakit, terkadang aku ingin tinggal dirasa sakit itu lebih lama. Lagi dan lagi setelah aku tambal dan kuyakinkan diriku tiap hari bahwa semua luka akan sembuh dengan sendirinya dan punya penawar. Aku seperti kecanduan merasakan rasa sakit itu, tapi kadang kemudian dengan bodohnya menyesali tindakanku karenanya rasanya yang sakit dan mendekati perih ternyata membuatku begitu tersiksa. Namun, merasakan sakit itu, rasanya seperti dia berada di dekatku. Di dekat hatiku yang luka, dan karenanya aku menyadari bahwa dia tidak benar-benar pergi. Hanya dengan begitu aku masih bisa membuktikan bahwa ia nyata, ia real dengan segala yang ia punya. Dan ia pernah hadir diduniaku, dihariku.

Aku tak tau bila rindu dapat begitu menyiksa, rindu dari kisah romansa masa lalu yang ingin kuhapus saja dari memori. Dan karena ketidakberdayaanku aku tau itu tidak mungkin, kecuali aku amnesia karena kecelakaan yang tidak kuinginkan seperti kisah drama sinetron indonesia yang klasik. Alhasil, aku membawa rasa sakit, kerinduan yang menyiksa itu kemana pun aku melangkah. Berhari-hari. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun.
Tanpa kusadari di bawah alam sadarku, aku menanti. Meski ia hilang. Kau hilang. Tanpa meninggalkan jejak untuk ku sama sekali. Kadang ditengah malam ditemani ricikan hujan aku bertanya-tanya pada diriku. Kenapa aku terobsesi pada dirimu. Apa yang menyebabkan kau tak pernah memberi kabar lagi padaku. Apa yang terjadi dalam rentang waktu ini. Dan adakah yang tidak aku sadari ternyata telah begitu berubah? Aku menanti telponmu, pesan singkatmu, suaramu, jejakmu. Berhari-hari. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun.

(Throught her eyes-dream theater) 
Aku kemudian teringat suatu sore dibawah sinar si kuning. Angin pantai yang sepoi-sepoi menyibakkan rambut hitamku yang ikal kesana kemari. Menjadikannya tampak kusut. Familiar dihidungku bau asin air laut dan silaunya sinar matahari, meski aku masih memejamkan mata sebentar, kelelahan. Masih terlalu siang untuk bermain dipantai, dan aku terlalu cepat datang kesini, pikirku. Sementara yang lainnya bercanda gurau. Aku duduk di kursi plastik dan bersandar santai. Aku mendengar suara parau itu lagi. Tapi kali ini suara itu tidak menyapaku. Aku mewajarinya karena kenyataannya kami sedang bertengkar. Hingga akhirnya mataku terbuka, aku melihatnya menatapku dalam. Sementara aku dengan acuhnya memalingkan wajahku. Saat itu, aku tidak nyaman menatap mata itu. Aku takut ia membaca pikiranku. Aku ingin dia mengerti apa maksudku tanpa harus aku katakan. Dan kau tau apa hasilnya? Itu adalah sesuatu yang  tidak mungkin. Aku tak tau akhirnya ia salah mengartikan acuhku,. Hubungan itu makin memburuk. Tak ada tawa, tak ada pula teriakan. Yang ada hanya hening. Terbendung tirani ego. Berhari-hari. Berbulan-bulan.

Sedang mengingatnya, tulisan in kubuat untuknya satu tahun yg lalu dikamar mungilku tanpa maksud. 


Akhirnya aku merasakan apa yang kau rasakan, bang. Dan kali ini rasanya aku mengerti.
bagaimana mencintai itu juga menyakitkan.
Bagaimana kali ini cinta membawaku pada kesederhanaan.
Dan sekarang mengiyakan kata katamu dulu tentang cinta, bahwa cinta hanyalah cinta.
Cinta tak selalu tentang tuntutan, ia bisa menjadi sangat murni saat tulus menghampiri.
Dulu, aku pikir semua katamu itu hanya bijak yg tak berada pada tempatnya.
Tapi sekarang aku mengerti.



Kamis, 15 September 2011

ketika umurku menginjak sepuluh

Ada sesuatu yang mengganjalku hari ini. Ada secuil memori yang muncul hari ini. Meski sebenarnya aku benci dan tak suka mengingatnya. Tak tau mengapa hari ini aku gelisah saja, disuatu hari yang murung namun tak jua menangis runtuhkan air.
Dihatiku ada perih yang tak ingin lagi kuingat, ada benci yang ingin kukubur, dan ada kecewa yang tak pernah kutunjukkan, karena selama ini aku hanya diam saja seribu bahasa. Tak pernah ada yang bertanya bagaimana aku melewatinya?

***
Suatu hari diumurku yang ke sepuluh tahun, ibu mengajakku ke suatu tempat. Sebelumnya ibu mendadaniku dengan cantik dan memakaikan gaun berwarna cokelat tua selutut. Gaun itu begitu bagus dengan bawahan mengembang dan ibu membelinya khusus untuk hari ini. Rambut hitam panjangku sengaja digurai ibu agar aku tampil makin mempesona. Ibu juga menyuruhku memakai sepatu yang serasi dengan bajuku. Sambil mendadani ku, aku memerhatikan wajah ibu, aku tau sikap ibu tak seperti biasanya. Namun aku tak mampu mengartikan getir wajah ibu dn sikapnya saat itu. Aku juga tak pernah bertanya kenapa aku harus tampil cantik, tampil mempesona dan untuk siapa semua ini. Aku hanya diam saja, takut terlalu banyak tanya dan menganggu ibu.

Lalu kemudian setelah ibu puas mendandaniku, akhirnya aku tau karena ibu bilang padaku bahwa sebentar lagi kami akan bertemu dengan seorang laki-laki yang ia sebut sebagai ayahku.
Aku terkejut, tak percaya ibuku akan mengantarkan aku untuk bertemu laki-laki itu di suatu hari ketika umurku sepuluh. Ini adalah pertemuan kali pertama setelah bertahun-tahun aku tak pernah bertemu dengan orang itu. Aku bahkan lupa kapan terakhir aku mengingatnya, atau kapan terakhir ibu membicarakannya, bahkan yg lebih parah aku tak ingat bagaimana wajahnya. Yang aku ingat, aku berakhir di sebuah rumah didampingi ibu di belakangku. aku dan ibu bertemu dengan banyak orang disana terdiri dari beberapa laki-laki dan wanita. Dengan wajah binggung aku hanya berdiri saja disisi pintu, tak mampu mengingat laki-laki mana yang harusnya aku panggil ayah, meski ibu pernah menunjukkan fotonya padaku yg disimpannya di album usang lemari tua kami. Tempat ini terasa asing sekali, orang-orangnya pun juga. Mereka itu semua ternyata adalah keluarga dari ayahku. Lalu dengan tiba-tiba seorang laki-laki menyapa membubarkan lamunanku, menarikku menjauh dari ibu dan kemudian memelukku. Tak selesai disitu, ia juga mencecar diriku dg pertanyaan basi dan asing, Tanpa aku bertanya, dia bilang bahwa dia ayahku dan bangga ternyata aku sudah tumbuh besar, sehat dan cantik. rasanya mau muntah aku mendengarnya,. Laki-laki itu hanya asal bicara, dia tak pernah tau apapun tentang kami dan sekarang malah memujiku. aku mengupat. Sementara di sebelah sana aku melirik ibu sedang berusaha keras mengakrabkan dirnya. Begitulah aku merasa saat itu waktu berjalan sangat lamban di pangkuan orang itu, menunggu kapan aku harus berhenti bersikap manis padanya. Menunggu kapan aku akan keluar dari rumah ini dan pulang bersama ibu.
Hingga kini, aku tak mengerti mengapa ibu membawaku untuk bertemu laki-laki itu. Meski ibu bilang itu semua permintaan ayah untuk bertemu denganku, dan ibu tak mampu menolaknya. Itu kali pertama dan juga kali terakhir aku bertemu dg laki-laki asing itu. Hanya terakhir itu saja, ketika umurku menginjak sepuluh.
                                                                    ----------------
Taukah kau, aku tak pernah mengeluh pada ibu kenapa aku berbeda, atau bahkan ketika disekolah teman-temanku bertanya padaku tentang siapa sosok laki-laki pendamping ibu yg mereka sebut sebagai ayah, bapak, papa, abah dan similar lain yg sejenis dalam kamus bahasa indonesia. Aku lagi-lagi cuma diam dan menghindar saja. Aku hanya belajar peran anggota keluarga di setiap mata pelajaran sekolah, tanpa benar-benar merasakan seperti apa rasanya itu. Yang aku tau, cuma ada aku dan ibu dirumah ini. Rumah kecil yg ibu beli dengan susah payah dari tabungannya selama bekerja hanya agar mampu melindungi kami dari hujan dan panas yg menggerogoti tubuh rentan ibu dan tubuh mungilku. Hal yg tak pernah ibu pinta dari ayah, dan bahkan mungkin ayah juga tak peduli.

Bukan berarti aku tak pernah bertanya pd ibu kenapa dirumah ini hanya ada aku dan ibu saja. Tapi ibu menjawab pertanyaanku bahwa itu tak penting lagi kini. ibu bilang kami mampu hidup tanpa laki-laki. Ibu bilang padaku bahwa aku tak perlu mencari dan bertanya soal ayah lagi, karena ia sudah memilih hidupnya sendiri dengan keluarga barunya setelah meninggalkan kami berdua. Ibu juga bilang ayah meninggalkan kami saat umurku menginjak dua, saat itu ibu minta berpisah dengan ayah dan membawaku pergi jauh. Umur yg bahkan aku tak mampu mengingat apapun tentang laki-laki itu. Dari nada bicaranya aku tau ibu membenci ayah, aku tau ibu begitu menderita. Lagi-lagi di ujung cerita dan jawabannya ibu memintaku untuk tak mengecewakan usahanya membesarku. Aku harus mampu jadi yang terbaik dan ibu akan berikan yang terbaik hanya untuk masa depanku. Saat itu aku tak mampu sanggah kata-kata ibu. Aku cuma tertidur memeluk lututku dn menangis teriang-iang katanya dn sejak itu aku tak pernah bertanya lagi. Aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku tak tau apa aku harus ikut membenci ayah seperti ibu atau tidak!

Ada kalanya terkadang ak merasa ibu terlalu keras padaku, ibu terlalu menuntutku banyak, ibu minta aku agar jadi begini dan begitu. Ibu memintaku belajar keras, mengatur jam bermainku. Terkadang juga memukulku saat aku membantah namun seringkali memelukku dg hangat diantara isak tangis kalahku. Setelah aku mulai remaja, tak sedikit pula waktu kami habiskan untuk bertengkar. Ibu makin keras saja pikirku, dan aku semakin tak ingin diatur, aku tak lagi berakhir di pelukan ibu tapi lebih senang menutup pintu kamar sendiri. Lucu aku mengingatnya, meski aku tau semua yg ibu buat hanya untuk memastikan masa depanku baik-baik saja. Ia akan korbankan apa saja agar aku mampu selesaikan pendidikannku, dn membuatnya bangga hingga aku mampu hidup sendiri kelak tanpanya. Ia bilang aku tak boleh mengecewakannya. Kami benar-benar  melakukan semua hal berdua tanpa ayah. Dan aku menyadari apapun yg dilakukan ibu, ia adalah wanita yg luar biasa. Kekuatannya tak pernah mampu aku bayangkan untuk membesarkan dan menjadikanku sperti sekarang ini. Ya, dia melakukannya sendiri. dia membesarkan aku sendiri. sering aku dengar suara tangisnya di tiap malam saat aku terbangun tengah malam waktu aku kecil. aku tau mungkin untuk ibu ini bukanlah pekerjaan mudah. Diantara rasa sakit hati, ia harus berjuang sendiri dalam hidup untuk kehidupan kami. Ibu membuktikan padaku, tanpa laki-laki, hidupku dan ibu sudah mencapai pada tingkat ini dan baik-baik saja. Hidup kami indah meski getir..

Maka aku tak pernah bertanya tanya lagi, aku melupakan ayah saat aku telah mampu memberikan kebanggaan pada Ibu dengan menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku hanya ingin wanita ini tersenyum, bangga melihatku, hasil prakarya dan kerja kerasnya sendiri. kuberikan padanya ketika umurku menginjak dua puluh tiga tahun.
Terimakasih Ibu, kau mengajarkan aku banyak hal. Dari tiap tetes air mata, pelukmu, aku belajar meski kadang aku merasa kau terlalu keras mendidikku tapi aku mengerti karena membesarkanku sendiri itu sama sekali tidak mudah bagi seorang wanita yang sendiri.. Kau bahkan mengorbankan hatimu yang sekarang mengeras krn terlalu lama kau abaikan, semua itu hanya kau tak ingin teralihkan dan tetap fokus untuk aku.
Kita telah merasakan titik terendah dan titik tertinggi yang mampu kita capai bu, tp kita tak berhenti disini saja. Ibu sudah buktikan ke dunia bahwa ibu kuat, ibu tak hancur, ibu tak gagal membesarkanku meski sendiri. Ibuku, ia wanita tangguh dan hebat.. Terimakasih sudah menjadi ibuku.


Pertengahan Sept 2011,.


Jumat, 09 September 2011

#kecewa

Saat semuanya tak lagi sama, dan berubah. Saat aku belajar tak ingin lagi mengingat namun jadi mengingat semuanya tentang mu. Bertanya tanya aku tentang haruskah berakhir begini ketika asaku berada di puncak tertinggi, berada di pelupuk mataku.
Sendirian aku sekarang, mengingatmu membuatku ingin tertawa hingga menangis kemudian menangis hingga mampu tertawa lagi.
Saat itu, saat biru jadi milikku, aku terbangun dari tidurku dan menyadari dirimu tak ada lagi disini. Aku berlari-lari kesemua hatiku, kesemua egoku,  kesemua amarahku berusaha menemukan sosokmu kembali namun kau hanya sabatas bayang. Taukah kau, sekarang tertawa dan menangis bisa kulakukan pada saat bersamaan. Taukah kau, bersyukur dan memaki bisa pula kulakukan bersamaan. Rasanya sangatlah melegakan, karena cuma itu yang kupunya sejak kau pergi. Hanya itu pengobat pesakitanku.



Senin, 01 Agustus 2011

Jika aku bukanlah aku.. sebuah renungan saja

Jika aku bukanlah aku.. sebuah renungan saja

aku tak pernah memahami bagaimana Tuhan menciptakan ini semua
kejadian tiap kejadian bagai random acak yg sempurna
dan slalu kutunggu hasil akhirnya..

awalnya, aku selalu penasaran,
bagaimana ia (Tuhan) memilihku untuk menempati ragaku yg sekarang,
dan konon katanya, aku dan ia telah memiliki kesepakatan semacam kontrak ttg ap yg akan terjadi dalam perjalanan hidupku saat aku dilempar ke dunia..

dan saat aku dilempar ke dunia, 
aku lupa sama sekali kesepakatan itu,
aku hanya menangis rewel
dan setelah besarnya kemudian aku hanya bisa mencari dan bertanya-tanya
lalu semakin lama, aku makin banyak bertanya..
salah satunya, aku selalu bertanya-tanya akan tujuan
aku selalu bertanya-tanya, jika Aku Bukan Aku...

Pernah bersama temanku aku mendiskusikan beberapa pertanyaan di atas..
namun sayang,. kami tidak menemukan jawaban yang tepat untuk memuaskan tanya2 itu
tak sampai nalar kami untuk menjawabnya..

Tapi entah knp, aku mrsa istimewa di matanya
sama seperti aku menempatkan dirinya dalam ruang spesial hatiku
aku selalu mersa punya tempat untuk jadi perhatiannya

Random acak yg ia ciptakan begitu cermat dan membuatku menanti

Jika aku bukan aku apakah semuanya akan sama Tuhan??

Selasa, 26 Juli 2011

surat untuk saudara lelaki ku

aku merenungi betapa anehnya hubungan kita
dan mengingat begitu banyak hal yang telah kita lewati bersama,
saat masa itu masih menjadi masa-masa mu dan masa-masa ku...

aku mengingatnya,
tak terhitung betapa seringnya kita bertengkar dan berdebat membahas sesuatu
tak terhingganya betapa kau dengan sabarnya menghadapi kemanjaanku
aku bahkan merajuk dan marah saat kau tak pedulikan keinginanku
namun kau tetap mau menenangkanku saat aku gelisah dan sendiri
tempat aku bertanya, merengek dan meminta perlindungan


Pernah sekalinya aku bertanya padamu??
kenapa kau tak pergi saja meninggalkanku, kalau saja aku ini menyusahkanmu tanyaku
tapi saat itu kau jawab dengan hanya tersenyum
kau bilang karena tak hanya kau yang membantuku untuk bertahan
namun aku pun membantumu untuk bertahan

hubungan yang lucu pikirku,
lucu karena entah mengapa akhirnya untuk suatu alasan kita mampu untuk saling melindungi

kau yang terbaik saudara lelakiku,
bahkan untuk ukuran saudara yang tak sama darah dagingnya denganku
kau tetap yang terbaik

Untuk saudara lelaki ku, apa kabarmu kini??
maaf untuk semua yang kau lakukan dan yang tak kulakukan untukmu
aku berharap suatu saat kita bisa bertemu
kembali bertengkar lagi dan kemudian berakhir dengan cerita-cerita manis masa-masa itu

Ya, surat ini untuk saudara lelakiku, aku harap kau baik sj. Aku tau kau baik-baik sj..

sepenggal cerita


Aku mencoba merangkai kata-kata ku menjadi kalimat yang dapat kau mengerti,.
Dan kumulai dengan kalimat sederhana.. berharap mampu menyelesaikannya

Aku tak pernah menduga akan merasakan asa yg seperti ini lagi
Aku merasai merah, biru, hitam, ungu serta kuning jadi satu..
Bukankah itu yg aku inginkan dan pernah kutulis dalam selembar catatan harianku
Tapi ini ternyata sebanding dengan ketakutan yang aku rsakan sekarang..
Untuk kali ini  ternyata aku hanya ingin menangis,
untuk sebuah alasan yg tak mampu aku jelaskan.,
Ya untuk kali ini, aku hanya ingin menangis saja tanpa perlu alasan.
Aku tak perlu dan tak butuh dimengerti sekarang..

Aku benar2 tak ingin kalah dengan diriku sekarang dan semudah ini..
Namun entah kenapa kali ini aku mersa akan kalah dalam berperang,
Firsatku tak bagus teman,
Tak ada doa-doa pengantar untukku dan kalimat2 pembakar semangat
Aku meragu, dan tak penuh,,

Tapi terimakasih
Terimakasih untuk merah, biru, hitam, ungu serta kuning yang kau biarkan aku meraihnya
Hingga aku pernah merasa sebahagia ini dan sesakit ini dalam waktu yang bersamaan

Huh, tetap saja aku tak bisa menyelesaikan kalimatku dengan sempurna,
seperti biasanya aku..






Selasa, 12 Juli 2011

Minggu pukul 23:43

Aku seperti sebuah puzzle, berceceran dan kesulitan untuk mengingat nomor-nomorku untuk kemudian menyusunnya utuh,,, Aku tak tau knp sulit bagiku mengingat dn menemukan bagian2 diriku lainnya.. Ah, aku mulai merasa takut, apakah aku sdh benar-benar hilang??
Minggu pukul 23:43 

Rabu, 29 Juni 2011

Aku dan Biru

Biru apa kabarmu, sudah lama aku tak menemuimu semenjak kala terakhir aku merasa kau tlah mengecewakanku.
Aku jd ingat pertama kali mengenalmu biru..
Aku tau kau dari sebuah ejaan. Saat itu aku baru belajar mengeja, dan belum mengerti apa apa soal dirimu.
Hingga di suatu siang yang teduh itu aku kemudian berkenalan dgmu. Kau memancar kebahagiaan yang sangat, kau begitu menenangkan, dan benar-benar membuatku mem-biru...
Entah kenapa biru, sejak itu aku jatuh cinta padamu. Aku tau kau begitu istimewa. Aku membanggakanmu pada semua teman2 ku.
Selanjutnya di hari-hariku aku tak pernah melupakanmu biru. Aku selalu riang dan tersipu mengingatmu.
Tak pungkiri kau membuatku bahagia.
Dan lalu kau memang tak selalu menjadi biru di hariku, kau kemudian berganti menjadi merah, dan hitam..
Aku kecewa kau mengilang dan aku kehilanganmu biru..
Dan setelah sekian lama, tak lagi aku merasai mu..
aku ingin bilang bahwa kini aku mem-biru lagi biru
Biru sudikah kau beriang-riang bersama ku lagi..
Aku sadar tak bisa lepas darimu biru. Tapi kali ini berjanjilah kau tak kan berganti menjadi warna lain di hariku.
Ah, biru kau begitu spesialnya bagiku. Kau bukan sekedar sebuah kata. Kau mewakili rasaku.

Jun, 29, 2011
Gits

Kamis, 26 Mei 2011

beberapa dari orang,
mungkin banyak yang merasa apa yang ada dalam hidupnya masih saja kurang...
karena memang begitulah hakikatnya manusia
selalu haus.. selalu ingin lebih dan selalu saja serba kekurangan

diriku atau dirimu pun mungkin merasakan hal yang sama

aku terdampar disini, dengan segala aktivitas harianku
di kota kelahiranku yang lama-lama mulai aku cintai
Pada kenyataannya, ada beberapa impianku yang terpendam dan belum terwujud..
namun aku belum mampu mewujudkan mimpi-mimpi indahku di setiap malam
dan memenuhi hasratku tentang dunia

aku harap suatu saat nanti aku mampu
karena kali ini aku hanya merasa resah, gelisah

Sabtu, 14 Mei 2011

26 maret

Aku ditampar kenyataan yang selama ini sebenarnya aku sembunyikan. Aku berusaha menghilangkan hal-hal menyakitkan di bawah alam sadarku. Tapi hanya karena empat jam di sore hari ini, aku kembali menyadari bahwa kedalaman ku untuk melupakan adalah sebuah keterpaksaan yang kupaksakan. Persepsi orang yang tak pernah aku pedulikan dan aku abaikan membuatku terhentak dalam kenyataanku sendiri. Aku jadi benci begini, aku benci memaafkan. Aku ingin lari ke sebuah tempat yang damai, dan tak perlu dihantui kesalahan masa lalu. Satu jam setengah di atas motor menuju arah pulang saat itu membuatku meyakini bahwa obsesi terbesarku bukanlah hal yang sama lagi. Meski rasa sakitnya masih terasa mengiris, aku tak bisa mengeluarkan airmataku seekpresif dulu. Rasa itu bertahan seperti seonggok batu yang semakin lama semakin mengeras..

26 maret

Kamis, 12 Mei 2011

Puzzle ku: Refleksi obsesi...

Puzzle ku: Refleksi obsesi...: "Dirimu pernah menjadi bagian yang paling aku sukai dan aku rindukan. Mungkin hingga sekarang tidak juga berubah. sulit untuk mengetahui bahw..."

Senin, 02 Mei 2011

he' was the first time

Memandang foto dirinya aku jadi terbayang keadaanku sekitar 10 tahun yang lalu.
Dari kaca jendela sekolah, di dalam kelas dan rok putih biru di badanku yang mungil..aku merona dan tersenyum sendiri, tergetir menikmati pesonanya. Saat itu aku masih belum mengerti atau bahkan belum bisa mengartikan perasaanku. yang kutau ada pesona yang dalam didirinya yang membuatku ketir dan kagum. ehm, disanalah aku mengenalnya sebagai seorang teman. 
Namun ketika kini tatapan mata itu hadir dihadapanku terpaku dalam pose dan diabadikan waktu. Aku baru mengerti arti getirnya.. arti merona pipiku..
Dialah cinta pertama yang pernah aku idamkan. pertama kalinya aku merasa tidak bosan menatap wajah seseorang. pertama kalinya aku merasa malu merona. he' was the first time.

Jumat, 15 April 2011

Jangan tanya aku sekarang..

cerita malam ini bermula dari lebih 24 jam yang lalu..
senyum ku merekah hari ini, rona pipiku kembali memerah


sudah lama rasanya tidak merasakan degupan jantung ini berdetak lebih cepat, begitu lama pula diriku tidak menemukan obsesi pembanding. Bukan, bukan berarti aku telah menemukan obsesi pembanding yang tepat dengan begitu cepat. Hanya saja kali ini situasi ini terasa cukup menyenangkan sehingga membuat diriku ingin tenggelam dalam kenikmatannya sementara waktu lebih lama…


Adalah dirinya yang merupakan orang lama dalam kehidupanku yang sempat muncul dan untuk kemudian hilang. setelah sekian lama tak mendengar kabarnya, malam itu kuputuskan menyapanya lewat pesan maya di layar monitor 14 inci kesayanganku. Dan bak gayung bersambut dirinya membalas pesanku. ada beberapa hal yang kami bicarakan hingga kemudian pembicaran berlanjut lewat handphone.


pembicaraan malam itu akhirnya menjadi tak biasa saat munculnya beberapa pertanyaan yang tidak pernah kusangka keluar dari dirinya. Pertanyaan yang menusukkku dan mampu membuat terdiam tanpa jawaban dan alasan. Hal yg tak biasa untuk ratu bantah sepertiku. Ruang bahas yang secara sadar tidak sadar merupakan jawaban dari semua pertanyaan yang aku lontarkan untuk diriku sendiri.
Benar saat ini aku butuh teman bicara, aku rindu sekali bercinta dalam bahasa dan kalimat. namun untuk menjawab pertanyaan itu, aku belum mampu. Karena toh selama ini jawaban itu yang selalu yang kuraba dan kucari sepanjang malam. Jangan tanya aku pertanyaan itu sekarang.


ada dua opsi
berusahalah lebih keras atau tidak sama sekali (seperti katamu)

Kamis, 14 April 2011

apa kabarmu "nona"?

malam ini tiba-tiba saja aku teringat seseorang yang biasa memanggilku dg sebutan "nona", dalam bahasa indonesia nona berarti panggillan untuk seorang perempuan muda, dan lajang.  Biasanya aku lebih mendeskripsikan kata itu sebagai perempuan yang manja. Perempuan yang selalu ingin diperlakukan bak ratu dan dipenuhi segala gala keinginannya dan yeah itu tak lain adalah aku.  

Dulu, ada seseorang yg sering menyebutku dg sebutan nona itu. seakan dia memahami betul driku sehingga tiap berhadapan denganku kata itu hampir tidak pernah tinggal menghiasi pembicaraan kami, sebagai bentuk sapaan manja untukku. Dan anehnya mendengar kata itu diucapkan seseorang padaku, aku merasa senang dan merasa dihargai sebagai perempuan muda yang bebas. Satu kata yang terdiri dari empat huruf tersebut ternyata begitu kuat pengaruhnya sehingga kini aku mulai merindukan nada kata itu masuk ke telinga ku. Kata yang sudah lama tak terdengar seiring menghilangnya si empunya.

Apa kbrnya dia? sudah lama tak bertemu.. 
orang yang pertama kali memanggilku dg sebutan "nona"

Senin, 11 April 2011

Refleksi obsesi...

Dirimu pernah menjadi bagian yang paling aku sukai dan aku rindukan. Mungkin hingga sekarang tidak juga berubah. sulit untuk mengetahui bahwa aku tidak bisa menghilangkan begitu saja dirimu dalam pengaruh kehidupanku. Kau masih saja menjadi obsesi ku yang belum tertandingi pengaruhnya. Hanya saja kadang situasi berubah sangat cepat,  dari yang menyenangkan beralih ke tidak menyenangkan. Dan aku kesulitan mengendalikan keinginanku, hingga aku bertindak menjadi seperti bukan diriku saja.   Rasanya mungkin baru kemarin, dan memang sudah tak sama lagi. Tapi aku butuh obsesi pembanding. Yah obsesi pembanding yang bisa mengurangi pengaruh mu dalam tiap pondasi kehidupanku.