Ayahku,
satu satunya orang yang harus bertanggung jawab atas
lahirnya aku dan tujuh saudara perempuanku ke dunia ini.
Ia tidak membiarkan ibuku berhenti melahirkan sampai ia
mendapatkan anak laki laki yang sudah lama ia nanti.
Ia berdoa tiap malam agar tuhan bermurah hati memberikannya
anak laki laki dan bukan untuk anak perempuan lagi.
Ayahku bilang anak laki
laki akan membantunya mencari uang dan memenuhi kebutuhan tiap mulut anak
perempuan dirumah ini.
Ia sama sekali tidak berpikir bahwa kami anak-anak perempuannya
mungkin saja mampu mencari penghidupan yang layak diluar sana jika ia sedikit saja percaya dan memberikan kami
kesempatan, anak anak perempuannya.
Ya, bagaimana ia
bisa percaya, karena ia hanya membiarkan kami mengenyam pendidikan
hingga sekolah dasar saja. Kemudian ditahun tahun selanjutnya, ayah menyuruh kami kembali kerumah
menghabiskan hari hari kami melakukan pekerjaan rumah.
Ayahku bilang, anak perempuan tidak memerlukan pendidikan
yang tinggi. Anak perempuan hanya perlu dua hal untuk dicintai laki laki yaitu
pandai memasak, dan mampu menghasilkan anak laki-laki. Sungguh, pilu hatiku mendengarnya.
Selama yang kutahu, semenjak ibu selalu melahirkan anak
perempuan. Ayah bersikap seolah olah ibu lah yang bertanggung jawab atas
kemiskinan kami.
Ayah selalu berfikir bahwa dengan kehadiran anak laki-laki, akan membuat keluarga kami bernasib baik secara ajaib.
Ibu,
Oh kasihan akupadanya.
Setiap dua tahun sekali
melahirkan adik adik baru bagi kami demi obsesi ayah pada kehadiran seorang
anak laki-laki.
Tapi tiap tahun juga, ibu selalu melahirkan anak perempuan, lagi lagi mengecewakan ayah.
Namun ia tidak mampu berbuat apa apa, ia terlalu patuh pada
ayah.
Entah karena terlalu cinta atau karena terlalu takut. Dan aku semakin
binggung dengan nasib keluargaku.
Oh, jika aku tuhan, maka aku akan membuat
setiap pria melahirkan anak, sehingga ayah akan mengerti bagaimana menderitanya menjadi seorang perempuan dan ibu.
Aku dan adik adikku sangat takut pada ayah.
Ayah adalah pria yang
keras, rumah ini bagai penjara jika ia ada dirumah.
Maka tak aneh jika kami
selalu merayakan ketidakhadirannya seperti sebuah pesta saat ia tidak ada dirumah atau sedang pergi bekerja.
Pria inilah ~ayah~ yang berkuasa dirumah ini, kata kata lain selain dirinya tidaklah penting.
Kata
katanya adalah berarti titah yang harus ditaati, dan tak seorang pun boleh
menentang.
Tidak juga dengan ibu.
Peran
ibuku disini tidak ada artinya sama sekali, pendapatnya hanya untuk diabaikan oleh ayah.
Maka ibuku hanya diam saja, melindungi kami anak anaknya dan dirinya
sendiri dari sikap yang tidak dapat ia kontrol dari ayah.
Sebagaimana lazimnya pria, ia selalu mengangkat tangannya
untuk menampar ketika tidak mampu lagi berkata kata, dan begitulah dengan ayahku.
Rasanya tamparan itu sudah menjadi makanan sehari hari bagi wajahku dan wajah saudara
saudara perempuanku jika kami sedikit saja bertentangan pendapatnya dengan
ayah.
Oh haruskah ia masih kupanggil ayah?
Aku tak ingin punya ayah,
jika ia selalu marahi dan pukul keluarganya atas semua
kesalahan kecil yg terjadi.
jika ia hanya menunjukkan wajah serius dan dingin tiap kali menatap
kami, mengingkari kehadiran kami atas keputusan egois yang ia buat saat memaksa ibu melahirkan perempuan perempuan ini demi pertaruhan seorang anak laki laki.
Oh, maka aku tak ingin punya ayah, aku tak perlu kehadiran seorang ayah.