.....Memory ku bak sepotong-potong
puzzle yang berceceran dimana-mana..
aku takut untuk menyatukannya. Terkadang ingatan itu datang dengan sebuah memori manis dan
selebihnya datang dengan menyakitkan. Bahkan terkadang aku berpikir, mungkin
aku sudah mulai gila dan hilang........
Sandu-sandu kudengar senandung lagu ini dan menikmatinya. Aku merasa saat
mendengarkan musik, perasaanku bisa terbang menjadi sangat gembira, kemudian
menjadi terlalu sedih dan bahkan membawa perasaanku menjadi sedikit agak aneh. Lalu
kadang dengan hanya mendengar sebuah musik, aku bisa jadi teringat suatu
tempat, seseorang, bahkan suasana di saat aku pernah mendengarnya di waktu yang
berbeda.
(The spirit carries on~dream theater)
----------------
Kupandangi air sungai dibawah
kakiku, dibawah jembatan kayu panjang bertali besi. Air itu mengalir dari hulu ke hilir dan tampak tak
begitu jernih menerjang bebatuan yang menghalanginya. Didua-sisinya terhampar
hijau pohon menyejukkan mata. Aku duduk dipinggir jembatan, membiarkan kakiku bergoyang goyang bebas merasakan batas ketinggian. Sementara kemudian dengan pelan2 kupejamkan mata untuk merekam hari ini ke dalam ingatan ku. Ditemani semilir angin yang meniup2, ak mncoba mendengarkan dan bayangkan bagaimana ricikan suara air dibawah kakiku saling menerjang, cicitan suara burung yang beterbangan diatas kepalaku, dan menahan nyilunya suara tali jembatan
yang bergoyang. Aku menghela nafas, sungguh ak merasa nyaman tiada duanya.
Di waktu bersamaan, kudengar suara parau tak asing dari seorang
laki-laki yang menyapaku ramah. Setelah dengan cepat aku mampu mendefinisikan milik siapa suara itu, kubuka pandanganku dan menemukan sosoknya sudah berada di disampingku lengkap dengan senyum simpulnya. Dan saat kulihat ia, semua yang ada pada wajahnya terasa familiar
bagiku. Dia tau, kau juga tau, aku selalu kagum saat melihat kedalam matanya, yang selalu kupuji
bak mata elang yang mampu menelanjangi setiap ketidaknyamanan diriku didekatnya.
Mata berbola hitam, tajam dan sempurna.
Aku bukannya tak nyaman berada di dekatnya. Hanya terkadang aku merasa sangat excited.
Sampai-sampai aku merasa aneh jika dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya
dan seketika itu juga aku merasakan ada sentruman listrik yang menjalar di
aliran tubuhku. Bersamanya dunia bisa menjadi tidak rasional. Pemikirannya
begitu liar dan itu membuatku selalu tak sabar mendengar ocehannya tentang
definisi kehidupan baginya.
Aku lagi2 menghela nafas, menghirup oksigen
murni yang masih banyak terdapat disana. Berharap dapat membantuku berusaha
bersikap normal dan menguasai diri. Kemudian aku membiarkannya duduk disampingku dalam diam, saling tersenyum seolah mampu membaca hati masing2 tanpa harus berkata2, ia mengikuti ku menggoyang2kan kakinya di batas ketinggian. Membuat jembatan kecil ini kembali goyang dan berdecit-decit.Dan kemudian seperti cahaya terang yang meredup. Aku tak ingat lagi apa yang kami bicarakan waktu itu. Aku hanya bisa menangkap kegembiraan yang sangat di memoriku, diatas jembatan itu.
---
Alunan musik itu menghentakkan aku karena berganti dengan jenis musik
lainnya. Aku menyadari bahwa memori itu sudah tersimpan diotakku lebih dari dua
tahun lalu. Saat dia masih nyata. Sementara aku sekarang berada didalam
ruangan kecil ini. Tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri, tertawa,
menangis, menari, berteriak dan merasa nyaman menelanjangi diriku sendiri, ketidaksempurnaanku.
Sekaligus menikmati kemirisan, serta kehilangan yang sekarang sedang aku
rasakan. Sekali lagi, bukan diatas jembatan.
Aku mempelajari bahwa kehilangan selalu disertai dengan rasa sakit. Dan
rasa sakit itu seperti koyakan di dadaku yang tiap kali kutambal, kunikmati
kembali lukanya. Bukannya lari dan bangkit dari rasa sakit, terkadang aku ingin
tinggal dirasa sakit itu lebih lama. Lagi dan lagi setelah aku tambal dan kuyakinkan
diriku tiap hari bahwa semua luka akan sembuh dengan sendirinya dan punya
penawar. Aku seperti kecanduan merasakan rasa sakit itu, tapi kadang kemudian
dengan bodohnya menyesali tindakanku karenanya rasanya yang sakit dan mendekati
perih ternyata membuatku begitu tersiksa. Namun, merasakan sakit itu, rasanya
seperti dia berada di dekatku. Di dekat hatiku yang luka, dan karenanya aku
menyadari bahwa dia tidak benar-benar pergi. Hanya dengan begitu aku masih bisa
membuktikan bahwa ia nyata, ia real dengan segala yang ia punya. Dan ia pernah
hadir diduniaku, dihariku.
Aku tak tau bila rindu dapat begitu menyiksa, rindu dari kisah romansa masa
lalu yang ingin kuhapus saja dari memori. Dan karena ketidakberdayaanku aku tau
itu tidak mungkin, kecuali aku amnesia karena kecelakaan yang tidak kuinginkan
seperti kisah drama sinetron indonesia yang klasik. Alhasil, aku membawa rasa
sakit, kerinduan yang menyiksa itu kemana pun aku melangkah. Berhari-hari.
Berbulan-bulan. Bertahun-tahun.
Tanpa kusadari di bawah alam sadarku, aku menanti. Meski ia hilang. Kau
hilang. Tanpa meninggalkan jejak untuk ku sama sekali. Kadang ditengah malam
ditemani ricikan hujan aku bertanya-tanya pada diriku. Kenapa aku terobsesi
pada dirimu. Apa yang menyebabkan kau tak pernah memberi kabar lagi padaku. Apa
yang terjadi dalam rentang waktu ini. Dan adakah yang tidak aku sadari ternyata
telah begitu berubah? Aku menanti telponmu, pesan singkatmu, suaramu, jejakmu. Berhari-hari.
Berbulan-bulan. Bertahun-tahun.
(Throught her eyes-dream theater)
Aku kemudian teringat suatu sore dibawah sinar si kuning. Angin pantai yang sepoi-sepoi menyibakkan rambut hitamku yang ikal kesana kemari. Menjadikannya tampak kusut. Familiar dihidungku bau asin air laut dan silaunya sinar matahari, meski aku masih memejamkan mata sebentar, kelelahan. Masih terlalu siang untuk bermain dipantai, dan aku terlalu cepat datang kesini, pikirku. Sementara yang lainnya bercanda gurau. Aku duduk di kursi plastik dan bersandar santai. Aku mendengar suara parau itu lagi. Tapi kali ini suara itu tidak menyapaku. Aku mewajarinya karena kenyataannya kami sedang bertengkar. Hingga akhirnya mataku terbuka, aku melihatnya menatapku dalam. Sementara aku dengan acuhnya memalingkan wajahku. Saat itu, aku tidak nyaman menatap mata itu. Aku takut ia membaca pikiranku. Aku ingin dia mengerti apa maksudku tanpa harus aku katakan. Dan kau tau apa hasilnya? Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Aku tak tau akhirnya ia salah mengartikan acuhku,. Hubungan itu makin memburuk. Tak ada tawa, tak ada pula teriakan. Yang ada hanya hening. Terbendung tirani ego. Berhari-hari. Berbulan-bulan.
Aku kemudian teringat suatu sore dibawah sinar si kuning. Angin pantai yang sepoi-sepoi menyibakkan rambut hitamku yang ikal kesana kemari. Menjadikannya tampak kusut. Familiar dihidungku bau asin air laut dan silaunya sinar matahari, meski aku masih memejamkan mata sebentar, kelelahan. Masih terlalu siang untuk bermain dipantai, dan aku terlalu cepat datang kesini, pikirku. Sementara yang lainnya bercanda gurau. Aku duduk di kursi plastik dan bersandar santai. Aku mendengar suara parau itu lagi. Tapi kali ini suara itu tidak menyapaku. Aku mewajarinya karena kenyataannya kami sedang bertengkar. Hingga akhirnya mataku terbuka, aku melihatnya menatapku dalam. Sementara aku dengan acuhnya memalingkan wajahku. Saat itu, aku tidak nyaman menatap mata itu. Aku takut ia membaca pikiranku. Aku ingin dia mengerti apa maksudku tanpa harus aku katakan. Dan kau tau apa hasilnya? Itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Aku tak tau akhirnya ia salah mengartikan acuhku,. Hubungan itu makin memburuk. Tak ada tawa, tak ada pula teriakan. Yang ada hanya hening. Terbendung tirani ego. Berhari-hari. Berbulan-bulan.
Sedang mengingatnya, tulisan in kubuat untuknya satu tahun yg lalu dikamar mungilku tanpa maksud.
tess teess...
BalasHapuswhats?? hee, trnyata ad jg yg baca yah.. :)
BalasHapus