Pages

Kamis, 15 September 2011

ketika umurku menginjak sepuluh

Ada sesuatu yang mengganjalku hari ini. Ada secuil memori yang muncul hari ini. Meski sebenarnya aku benci dan tak suka mengingatnya. Tak tau mengapa hari ini aku gelisah saja, disuatu hari yang murung namun tak jua menangis runtuhkan air.
Dihatiku ada perih yang tak ingin lagi kuingat, ada benci yang ingin kukubur, dan ada kecewa yang tak pernah kutunjukkan, karena selama ini aku hanya diam saja seribu bahasa. Tak pernah ada yang bertanya bagaimana aku melewatinya?

***
Suatu hari diumurku yang ke sepuluh tahun, ibu mengajakku ke suatu tempat. Sebelumnya ibu mendadaniku dengan cantik dan memakaikan gaun berwarna cokelat tua selutut. Gaun itu begitu bagus dengan bawahan mengembang dan ibu membelinya khusus untuk hari ini. Rambut hitam panjangku sengaja digurai ibu agar aku tampil makin mempesona. Ibu juga menyuruhku memakai sepatu yang serasi dengan bajuku. Sambil mendadani ku, aku memerhatikan wajah ibu, aku tau sikap ibu tak seperti biasanya. Namun aku tak mampu mengartikan getir wajah ibu dn sikapnya saat itu. Aku juga tak pernah bertanya kenapa aku harus tampil cantik, tampil mempesona dan untuk siapa semua ini. Aku hanya diam saja, takut terlalu banyak tanya dan menganggu ibu.

Lalu kemudian setelah ibu puas mendandaniku, akhirnya aku tau karena ibu bilang padaku bahwa sebentar lagi kami akan bertemu dengan seorang laki-laki yang ia sebut sebagai ayahku.
Aku terkejut, tak percaya ibuku akan mengantarkan aku untuk bertemu laki-laki itu di suatu hari ketika umurku sepuluh. Ini adalah pertemuan kali pertama setelah bertahun-tahun aku tak pernah bertemu dengan orang itu. Aku bahkan lupa kapan terakhir aku mengingatnya, atau kapan terakhir ibu membicarakannya, bahkan yg lebih parah aku tak ingat bagaimana wajahnya. Yang aku ingat, aku berakhir di sebuah rumah didampingi ibu di belakangku. aku dan ibu bertemu dengan banyak orang disana terdiri dari beberapa laki-laki dan wanita. Dengan wajah binggung aku hanya berdiri saja disisi pintu, tak mampu mengingat laki-laki mana yang harusnya aku panggil ayah, meski ibu pernah menunjukkan fotonya padaku yg disimpannya di album usang lemari tua kami. Tempat ini terasa asing sekali, orang-orangnya pun juga. Mereka itu semua ternyata adalah keluarga dari ayahku. Lalu dengan tiba-tiba seorang laki-laki menyapa membubarkan lamunanku, menarikku menjauh dari ibu dan kemudian memelukku. Tak selesai disitu, ia juga mencecar diriku dg pertanyaan basi dan asing, Tanpa aku bertanya, dia bilang bahwa dia ayahku dan bangga ternyata aku sudah tumbuh besar, sehat dan cantik. rasanya mau muntah aku mendengarnya,. Laki-laki itu hanya asal bicara, dia tak pernah tau apapun tentang kami dan sekarang malah memujiku. aku mengupat. Sementara di sebelah sana aku melirik ibu sedang berusaha keras mengakrabkan dirnya. Begitulah aku merasa saat itu waktu berjalan sangat lamban di pangkuan orang itu, menunggu kapan aku harus berhenti bersikap manis padanya. Menunggu kapan aku akan keluar dari rumah ini dan pulang bersama ibu.
Hingga kini, aku tak mengerti mengapa ibu membawaku untuk bertemu laki-laki itu. Meski ibu bilang itu semua permintaan ayah untuk bertemu denganku, dan ibu tak mampu menolaknya. Itu kali pertama dan juga kali terakhir aku bertemu dg laki-laki asing itu. Hanya terakhir itu saja, ketika umurku menginjak sepuluh.
                                                                    ----------------
Taukah kau, aku tak pernah mengeluh pada ibu kenapa aku berbeda, atau bahkan ketika disekolah teman-temanku bertanya padaku tentang siapa sosok laki-laki pendamping ibu yg mereka sebut sebagai ayah, bapak, papa, abah dan similar lain yg sejenis dalam kamus bahasa indonesia. Aku lagi-lagi cuma diam dan menghindar saja. Aku hanya belajar peran anggota keluarga di setiap mata pelajaran sekolah, tanpa benar-benar merasakan seperti apa rasanya itu. Yang aku tau, cuma ada aku dan ibu dirumah ini. Rumah kecil yg ibu beli dengan susah payah dari tabungannya selama bekerja hanya agar mampu melindungi kami dari hujan dan panas yg menggerogoti tubuh rentan ibu dan tubuh mungilku. Hal yg tak pernah ibu pinta dari ayah, dan bahkan mungkin ayah juga tak peduli.

Bukan berarti aku tak pernah bertanya pd ibu kenapa dirumah ini hanya ada aku dan ibu saja. Tapi ibu menjawab pertanyaanku bahwa itu tak penting lagi kini. ibu bilang kami mampu hidup tanpa laki-laki. Ibu bilang padaku bahwa aku tak perlu mencari dan bertanya soal ayah lagi, karena ia sudah memilih hidupnya sendiri dengan keluarga barunya setelah meninggalkan kami berdua. Ibu juga bilang ayah meninggalkan kami saat umurku menginjak dua, saat itu ibu minta berpisah dengan ayah dan membawaku pergi jauh. Umur yg bahkan aku tak mampu mengingat apapun tentang laki-laki itu. Dari nada bicaranya aku tau ibu membenci ayah, aku tau ibu begitu menderita. Lagi-lagi di ujung cerita dan jawabannya ibu memintaku untuk tak mengecewakan usahanya membesarku. Aku harus mampu jadi yang terbaik dan ibu akan berikan yang terbaik hanya untuk masa depanku. Saat itu aku tak mampu sanggah kata-kata ibu. Aku cuma tertidur memeluk lututku dn menangis teriang-iang katanya dn sejak itu aku tak pernah bertanya lagi. Aku menutup mulutku rapat-rapat. Aku tak tau apa aku harus ikut membenci ayah seperti ibu atau tidak!

Ada kalanya terkadang ak merasa ibu terlalu keras padaku, ibu terlalu menuntutku banyak, ibu minta aku agar jadi begini dan begitu. Ibu memintaku belajar keras, mengatur jam bermainku. Terkadang juga memukulku saat aku membantah namun seringkali memelukku dg hangat diantara isak tangis kalahku. Setelah aku mulai remaja, tak sedikit pula waktu kami habiskan untuk bertengkar. Ibu makin keras saja pikirku, dan aku semakin tak ingin diatur, aku tak lagi berakhir di pelukan ibu tapi lebih senang menutup pintu kamar sendiri. Lucu aku mengingatnya, meski aku tau semua yg ibu buat hanya untuk memastikan masa depanku baik-baik saja. Ia akan korbankan apa saja agar aku mampu selesaikan pendidikannku, dn membuatnya bangga hingga aku mampu hidup sendiri kelak tanpanya. Ia bilang aku tak boleh mengecewakannya. Kami benar-benar  melakukan semua hal berdua tanpa ayah. Dan aku menyadari apapun yg dilakukan ibu, ia adalah wanita yg luar biasa. Kekuatannya tak pernah mampu aku bayangkan untuk membesarkan dan menjadikanku sperti sekarang ini. Ya, dia melakukannya sendiri. dia membesarkan aku sendiri. sering aku dengar suara tangisnya di tiap malam saat aku terbangun tengah malam waktu aku kecil. aku tau mungkin untuk ibu ini bukanlah pekerjaan mudah. Diantara rasa sakit hati, ia harus berjuang sendiri dalam hidup untuk kehidupan kami. Ibu membuktikan padaku, tanpa laki-laki, hidupku dan ibu sudah mencapai pada tingkat ini dan baik-baik saja. Hidup kami indah meski getir..

Maka aku tak pernah bertanya tanya lagi, aku melupakan ayah saat aku telah mampu memberikan kebanggaan pada Ibu dengan menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Aku hanya ingin wanita ini tersenyum, bangga melihatku, hasil prakarya dan kerja kerasnya sendiri. kuberikan padanya ketika umurku menginjak dua puluh tiga tahun.
Terimakasih Ibu, kau mengajarkan aku banyak hal. Dari tiap tetes air mata, pelukmu, aku belajar meski kadang aku merasa kau terlalu keras mendidikku tapi aku mengerti karena membesarkanku sendiri itu sama sekali tidak mudah bagi seorang wanita yang sendiri.. Kau bahkan mengorbankan hatimu yang sekarang mengeras krn terlalu lama kau abaikan, semua itu hanya kau tak ingin teralihkan dan tetap fokus untuk aku.
Kita telah merasakan titik terendah dan titik tertinggi yang mampu kita capai bu, tp kita tak berhenti disini saja. Ibu sudah buktikan ke dunia bahwa ibu kuat, ibu tak hancur, ibu tak gagal membesarkanku meski sendiri. Ibuku, ia wanita tangguh dan hebat.. Terimakasih sudah menjadi ibuku.


Pertengahan Sept 2011,.


1 komentar: