Pages

Rabu, 22 Februari 2012

February ku duabelas


Aku benci saat saat ak kelu dan tak mampu menyampaikan padamu beberapa kegelisahan kegelisan ini, rasanya seperti aku merasa nyata namun aku sendiri sebenarnya tidak nyata. Kau tau, ak mungkin terlalu banyak berharap memupuk semua cinta yg mungkin tak seharusnya tumbuh. Aku bahkan tak bisa bedakan dirimu nyata atau sekedar mimpi.  Aku selalu berdoa agar kali ini rasaku tulus, tak meminta dan jauh dari rasa sakit. Tapi tetap saja aku manusia yg lemah, dimana beribu pertanyaan muncul saat gelisah itu datang menteror dan bertanya tanya. siapa kita.
Ah, entahlah aku menghela juga akhirnya, pandanganku jatuh ke luar sana dimana suara ribut hujan berlomba lomba jatuh ke tanah makin membuatku semakin tak enak hati.
Kadang aku berpikir, apa aku tak pantas memiliki secuil kenangan indah yg kulukis sendiri dn harus berpuas diri bersama kegagalan kegagalan yg bahkan benar2 tak ingin kuingat. Aku tak ingin lagi berdiri di sudut kecewa, aku tak mau lagi berdiri di sudut cemburu. Dimana semua rasa sabar dan mimpiku hamburan berantakan.
Kecewaku sudah pernah, berkali kali malah hingga aku hampir mati rasa, dan aku tak mau lagi merasa bagaimana rasanya itu,, gagal yg hampir membuatku kehilangan percaya. Ya, membuatku lupa bagaimana caranya mempercayai, bagaimana dipercayai..
Mungkin memang aku harus bisa membedakan yg nyata dan yg mana mimpi, aku harus belajar realistis yg membuatku hampir tenggelam ke dalam angan2 indah nan idealis yg kuciptakan sendiri,
Aku membangunkan diriku dg membasuh mukaku sendiri lewat airmata dn menampar pipiku dg tanganku sendiri. Kau benar, mungkin aku memang hanya manusia penakut, takut akan rasa sakit. Selalu melihat pelangi setelah hadirnya hujan, namun tetap tak berani percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar