Aku benci saat
saat ak kelu dan tak mampu menyampaikan padamu beberapa kegelisahan kegelisan
ini, rasanya seperti aku merasa nyata namun aku sendiri sebenarnya tidak nyata.
Kau tau, ak mungkin terlalu banyak berharap memupuk semua cinta yg mungkin tak
seharusnya tumbuh. Aku bahkan tak bisa bedakan dirimu nyata atau sekedar
mimpi. Aku selalu berdoa agar kali ini
rasaku tulus, tak meminta dan jauh dari rasa sakit. Tapi tetap saja aku manusia
yg lemah, dimana beribu pertanyaan muncul saat gelisah itu datang menteror dan
bertanya tanya. siapa kita.
Ah, entahlah aku
menghela juga akhirnya, pandanganku jatuh ke luar sana dimana suara ribut hujan berlomba lomba
jatuh ke tanah makin membuatku semakin tak enak hati.
Kadang aku
berpikir, apa aku tak pantas memiliki secuil kenangan indah yg kulukis sendiri
dn harus berpuas diri bersama kegagalan kegagalan yg bahkan benar2 tak ingin
kuingat. Aku tak ingin lagi berdiri di sudut kecewa, aku tak mau lagi berdiri
di sudut cemburu. Dimana semua rasa sabar dan mimpiku hamburan berantakan.
Kecewaku sudah
pernah, berkali kali malah hingga aku hampir mati rasa, dan aku tak mau lagi
merasa bagaimana rasanya itu,, gagal yg hampir membuatku kehilangan percaya. Ya,
membuatku lupa bagaimana caranya mempercayai, bagaimana dipercayai..
Mungkin memang
aku harus bisa membedakan yg nyata dan yg mana mimpi, aku harus belajar
realistis yg membuatku hampir tenggelam ke dalam angan2 indah nan idealis yg
kuciptakan sendiri,
Aku membangunkan
diriku dg membasuh mukaku sendiri lewat airmata dn menampar pipiku dg tanganku
sendiri. Kau benar, mungkin aku memang hanya manusia penakut, takut akan rasa
sakit. Selalu melihat pelangi setelah hadirnya hujan, namun tetap tak berani percaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar